Kamis, 24 April 2014

SALAH MEMILIH PEMIMPIN MENGANTARKAN INDONESIA KEPADA KEHANCURAN DUNIA AKHIRAT



Fiqh Muamalah
Ust.Moh.Mas’al,S.HI






SALAH MEMILIH PEMIMPIN MENGANTARKAN INDONESIA KEPADA KEHANCURAN DUNIA AKHIRAT

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ( الأعراف:96)
Andaikan penduduk suatu negeri mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri.” (QS: Al A’raf/7 :96).
Ayat diatas sudah sangat jelas dan gamblang memberi informasi kepada kita bahwa jika suatu bangsa mau mendapatkan kucuran rahmat dan dijauhkan dari berbagai musibah, maka iman dan taqwa harus dijadikan sebagai nilai tertinggi dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Tentu saja, itu termasuk dalam penentuan pemimpin, baik pada tataran keluarga,  kelompok, atau pun pada tataran kenegaraan.
Pemimpin yang beriman dan bartaqwa pasti bekerja sekuat tenaga menjalankan amanah yang diembannya; mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongannya; bekerja keras untuk menjaga dan membina iman dan taqwa bangsanya; bukan sekedar berkutat pada urusan dunia semata; bekerja keras mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya; takut azab Allah di dunia dan akhirat; takut mengambil hak rakyat; dan menangis jika rakyat susah dan sengsara.
Tugas Pemimpin/Khilafah dalam Islam ada 2 Unsur Pokok :
1.     حراسة الدين  (Menjaga agama)
2.     سياسة الدنيا به  ( Mengatur rakyatnya dengan Agama sampai timbul kesejahteraan) lihat kitab Al Islam wal Khilafah oleh DR. Rusydy Ulyan, dari Bagdad Universaty
-Menjaga Ad-dhin artinya :
1). mengawal Islam sampai pada Tathbiq/Aplikasinya dari berbagai penyimpangan dan perubahan dari berbagai pemahahaman yang menyimpang baik dari aspek Aqidah dan Syari’ah, serta tetap menjelaskan dan menyebarkan kepada semua orang.
2).Mengtathbiq/mempraktekkan hukum-hukumnya dan mengamalkan keilmuan Islam serta mengawal mereka untuk sampai pada penegakan hudud Allah,Taat perintah dan menjahui larangan.
- Mengatur kesejahteraan dengan Agama:
1).Pengaturan berfokus pada pembelajaran Agama melalui Negara, sebab tujuan ditegakkan hukum untuk kemaslahatan dan menolak segala bentuk kerusakan dan ini semua tidak akan terwujud melainkan dengan Agama dan mengamalkannya,baik dalam aspek hukum hudud Allah,dengan menjahui larangan dan melaksanakan perintah serta mencegah dari kemungkaran.(Al-Islam wal Khilafah hal.20-21)
Bagi seorang Muslim, memilih pemimpin berdimensi ibadah; dunia akhirat; bukan sekedar itung-itungan rebutan kuasa dunia. Berpolitik adalah bagian dari ibadah dan dakwah, bukan untuk berbangga-bangga akan banyaknya golongan dan himpun harta benda dunia. Karena itu, pemimpin beriman dan bertaqwa mustilah zuhud – tidak gila dunia – dan hidup bersahaja; tidak pamer kemewahan di depan rakyat yang sebagian besarnya masih berkubang dalam belitan kesulitan hidup. Perhatikan ayat berikut sebagai gambaran kepada kita tentang sosok pemimpin yang layak kita pilih:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ( المائدة :57)
55“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
56.”Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah SWT itulah yang pasti menang
57.” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al-Maidah/5 :55-57).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ( المائدة :51)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim(QS. Al-Maidah/5 :51)
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ ( الأنفال:73)
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi fitnah/kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”(QS.Al-Anfal/8 :73)
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا ( الإسراء :16)
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,”(QS.Al-Isro’/17 :16)
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ...
وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا, (رواه مسلم, كتاب الفتن وأشراط الساعة, باب هلاك هذه الأمة بعضهم ببعض )
Dari Tsauban, ia berkata :Rasulallah saw. Bersabda :  … dan sesungguhnya aku telah memohon kepada Tuhanku untuk umatku agar musim susah/paceklek yang panjang tidak membinasakan mereka, dan agar tidak memberikan kekuasaan atas mereka musuh selain mereka sendiri sehingga kekuatan mereka hancur luluh. Dan sesungguhnya Tuhanku berfirman : Wahai Muhammad ! Sesungguhnya Aku apaila memutuskan suatu putusan, maka sesungguhnya putusan Ku itu tidak dapat diubah. Dan sesungguhnya Aku memperkenankan do’amu untuk umatmu, bahwa mereka tidak akan binasa karena musim penderitaan yang panjang. Dan bahwa Aku tidak akan memberi kuasa kepada musuh sehingga kekuatan mereka hancur luluh, walaupun musuh bersatu mengelilingi mereka selain mereka sendiri, kecuali apabila sebagian diri mereka sendiri membinasakan sebagian (yang lain) dan mereka saling tawan menawan (antar mereka sendiri) “ (HR. Muslim no. 2889).
عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ الْعَالِيَةِ حَتَّى إِذَا مَرَّ بِمَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَةَ دَخَلَ فَرَكَعَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْنَا مَعَهُ وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيلًا ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَيْنَا فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا (رواه مسلم, كتاب الفتن وأشراط الساعة, باب هلاك هذه الأمة بعضهم ببعض )
 Dari ‘Amir bin Sa’ad dari bapaknya bahwa Rasulullah saw, bersabda : Aku memohon kepada Tuhanku tiga (perkara). Dia memperkenankan dua (perkara) dan menolak satu (perkara), Aku memohon kepada Tuhanku agar tidak membinasakan umatku dengan sebab penderitaan musim susah/paceklek yang panjang, maka diperkenankan, Aku memohon kepada-Nya agar jangan membinasakan umatku dengan bencana Banjir/tenggelam, maka diperkenankan. Aku memohon agar jangan membinasakan (umatku) dengan sebab pertentangan antar mereka, maka Dia menolak permohonanku.”(HR.Muslim no. 2890)

Dalam Kitab as-Siyasah Syar’iyyah,  Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengutip hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang memperingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati dalam memilih pemimpin: “Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Al-Hakim).

Makalah ilustrasi dari penulis  setelah mentela’ah dari beberapa kitab berikut:
1.      Al-Islam wal khilafah”  oleh DR. Rusydi Ulyan
2.      Syarah As-siyasatu syar’iyyah” oleh Syeh Sholih Utsaimin
3.      As-Siyasatu Syar’iyyah” oleh Ibrohim bin yahya Kholifah
4.      Al-Madkhol ila Siyasati Syar’iyyah”oleh Syeh Abdul ‘Ali Ahmad  ‘Athwa
5.      Al-Islam wa ‘audho’una As-Siyasiyyah” oleh Abdul Qodir Auda
6.      Al-Ahkamu Sulthoniyah” oleh Al Mawardi
Ahad 27 April 2014
Disampaikan pada Pengajian Ahad pagi Islamic Center Nganjuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar